Fitrah seksual (part2)

Wah saya baru aja ngeh tentang masalah gender dan seksual yang marak akhir-akhir ini, setelah mantengin presentasi grup2, tentang peterpan and Cinderella Syndrome… Yuk simak artikel ini dulu yuk

Peterpan Syndrome vs Cinderella Complex

Saat ini, banyak sekali pasangan muda yang belum lama menikah akhirnya bercerai.
Fenomena seperti itu kian meningkat. Padahal waktu mereka berpacaran, sepertinya tidak ada
masalah. Namun setelah memasuki dunia pernikahan banyak hal yang mereka temui, bahkan
mungkin hal-hal sepele, yang menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga. Ternyata pada
saat ”penjajakan”, masing-masing dari mereka tidak sempat mengenali pasangannya dari sudut
pandang pengasuhan. Mereka tidak menyadari bahwa di dalam diri pasangan atau diri mereka
sendiri, terdapat jiwa-jiwa peter pan dan cinderella.
Apa itu Sindrom Peter Pan?
Peter Pan adalah seorang tokoh dalam cerita anak-anak yang ditulis JM Barrie (1860-1937),
seorang sastrawan dari Skotlandia. Peter Pan digambarkan sebagai karakter bocah lelaki nakal
yang bisa terbang dan secara magis menolak menjadi dewasa.
Watak Peter Pan yang serba kekanak-kanakan ini oleh Dan Kiley (1983) dijadikan sebuah
“penyakit” psikologis, yang disebut sindrom Peter Pan. Sindrom Peter Pan ditujukan untuk
orang dewasa yang secara sosial tidak menunjukkan kematangan. Sindrom ini lazim diderita
kaum lelaki yang secara psikologis, seksual, dan sosial menunjukkan perilaku yang keluar dari
pengasuhan.
Sindrom tersebut memakai nama Peter Pan, karena memang Peter Pan ‘menolak’ menjadi
dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Karena itu sangat sesuai untuk
menggambarkan laki-laki dewasa yang masih bersifat kekanak-kanakkan.
Apa ciri-ciri orang yang mengalami sindrom Peter Pan ?
● tidak sudi / cenderung tidak bertanggung jawab
● suka melawan
● sulit berkomitmen
● manja
● tidak suka bekerja keras
● pemarah (mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi), suka mengamuk
● cinta diri sendiri secara berlebihan (narsis)
● mengalami ketergantungan pada orang lain / dependency (bahkan hingga hal-hal yang
kecil)
● senang memanipulasi (manipulativeness), jago ‘bicara’ untuk membuktikan bahwa dia
yang benar
● memiliki keyakinan yang melampaui hukum-hukum dan norma masyarakat.
● enggan untuk hidup sendiri dan selalu merasa sendiri (??)
● tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko
● mudah sakit hati
● tidak bisa menerima kritikan
● kurang percaya diri
● menolak berhubungan dengan lawan jenis
● pemberontak
Salah satu penyebab munculnya sindrom ini adalah akibat pola asuh yang tidak sengaja salah
semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu
membelanya. Orang tua terlalu melindungi anaknya, selalu turun tangan dalam setiap masalah
anaknya, terlalu menuruti permintaan anak. Akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti
anak anak. Hal ini bisa difahami, karena kepribadian seorang anak, 80% dipengaruhi oleh
lingkungannya (lingkungan terdekat seorang anak adalah kedua orang tuanya), dan hanya 20%
dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik).

Seorang laki-laki yang mengalami sindrom Peter Pan, sangat membutuhkan seorang istri yang
bersifat seperti ibunya. Layaknya seorang ibu yang akan menyayangi, melindungi dan melayani
anaknya. Jika ia tidak mendapatkan sosok istri yang seperti itu, ia akan sangat mudah untuk
membanding-bandingkan istrinya, dan merasa istrinya tidak bisa mengurusinya sebagai suami,
dan ia akan sering kali ‘pulang’ dan bermanja-manja kepada ibunya.
Apa itu Cinderella Compleks?
Seperti yang telah kita ketahui, Cinderella mengambarkan tokoh dalam film kartun anak-anak,
yang semasa kecilnya hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Namun menjelang remaja,
kehidupannya berubah karena, ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah dengan
wanita lain. Setelah ayahnya menikah, kehidupan Cinderella menjadi sangat tidak bahagia.
Karena ibu dan 2 saudara tirinya itu sangat membenci Cinderella. Kehidupan cinderella menjadi
sangat pahit, menyebabkan ia merindukan sosok lelaki seperti ayahnya yang akan melindungi
dan menyayangi dirinya.
Istilah sindrom Cinderella Complex menggambarkan sebuah ketakutan tersembunyi pada
perempuan untuk mandiri. Karena yang ada dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk
selalu diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”.
Dalam keseharian, “penyakit psikologis” ini biasa disebut dengan Syndrom Umur 20, Syndrom
Umur 21, Syndrom Umur 22, Syndrom Umur 23, dan seterusnya sepanjang si perempuan itu
addicted dengan khayalan akan bertemu dengan pangeran impiannya sebagaimana yang
terjadi di dalam dongeng Cinderella.
Seorang wanita yang mengalami Cinderalla compleks, sangat membutuhkan seorang suami
yang bersifat seperti ayahnya, yang dewasa, mengayomi, dan selalu melindungi.
Anda-kah orang tua yang menumbuhkan jiwa peter pan & cinderella pada jiwa anak?
Seperti apa pola pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa peter pan &
Cinderella?
● Ortu yang selalu melindungi
● Ortu yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
● Ortu yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)
Mengapa bisa demikian?
● Ortu tidak siap menjadi ortu
● Ortu yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ’dendam positif’
ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
● Ayah – Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah
kompak, sehingga anak menjadi bingung.
● Ortu yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.
Jika sudah terlanjur, harus bagaimana?
● Laki-laki yang mengalami sindrom peter pan tidak akan mengalami kesulitan dalam
pernikahannya, jika mendapatkan istri dengan karakter keibuan.
● Begitu pula sebaliknya, bagi sang ’cinderella’ yang mendapatkan suami dengan karakter
ke’ayah’an yang kuat.
● Untuk istri-istri yang jadi ibu bagi peter pan harus memahami mengapa suaminya
bersifat kekanak-kanakan, harus mau berkorban dan ‘tega’ untuk membentuk kembali
jiwa kemandiriannya.
● Untuk suami-suami yang jadi ayah bagi Cinderella juga harus memahami mengapa ia
bersikap seperti itu dan ajak bicara secara baik-baik.
Bagaimana menghilangkan ‘penyakit psikologis’ tersebut?
● Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
● Lingkungan harus mendukung
● Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
● Minta pertolongan kepada Allah
Pesan
Anak-anak kita….kelak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang akan memasuki dunia
pernikahan dan memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Pengasuhan kita kepada mereka
sangat berpengaruh bagi perkembangan jiwa-jiwa mereka. Apakah anak lelaki kita akan
tumbuh menjadi orang dewasa dengan jiwa yang kekanak-kanakan ? Apakah anak
perempuan kita akan tumbuh menjadi orang yang merindukan ‘pangeran’ ? Semuanya
tergantung pada pengasuhan kita. Jika kita merindukan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi
orang yang dewasa sesungguhnya, maka marilah kita buat pengasuhan dalam rumah-rumah
kita menjadi lebih baik…
-Elly Risman- [Dearparents[at]yahoogroups.com]

Other post you may interest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *